Sumber Materiil Praktik Kehidupan Islami
Al-Qur’an Sumber Materill dalam Kehidupan Islam
Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah “kalamullah yang mu’jiz, yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw dengan perantaraan Jibril, dengan lafadz Arab, yang ditulis dalam mashahif, yang membacanya dinilai sebagai ibadah, diriwayatkan secara mutawatir”.
Tujuan Al-Qur'an diturunkan Adalah untuk menegakkan tata masyarakat yang adil berdasarkan etika. Tujuan ini sejalan dengan semangat dasar Al-Qur'an itu sendiri, sebagaimana dikemukakan Fazlur Rahman (1994:34), yaitu semangat moral, yang menekankan monotheisme serta keadilan sosial.
AI-Qur'an merupakan kitab yang otentisitasnya dijamin dan dipelihara oleh Allah. AI-Qur'an menjelaskan dalam salah satu ayatnya, "Kami yang menurunkan Al-Qur'an dan Kamilah yang memeliharanya" (QS J 5:] 9). AI-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam mempunyai satu sendi utama yang esensial. Ia berfungsi memberi petunjuk ke jalan sebaik- baiknya.
Mengenai isi kandungan Al-Qur'an, pada garis besamya memuat antara Iain: aqidah; syariah ('ibadah dan muamalah); akhlak; kisah-kisah masa lampau; berita-berita yang akan datang; dan pengetahuan-pengetahuan illahi penting lainnya.
Fungsi AI-Qur'an Adapun fungsi AI-Qur'an meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Petunjuk untuk manusia;
b) Keterangan-Keterangan; (QS 2:185);
c) Pemisah (QS Yunus:57);
d) Rahmat dan hidayah bagi alam semesta;
e) Mu'jizat bagi Nabi Muhammad Saw.;
f) Pengajaran dari Allah SWT;
g) Obat penyakit hati;
h) Penguat dan penutup adanya kitab-kitab suci sebelumnya.
Al-Qur’an Sebagai Sumber Ajaran Islam
Telah ditetapkan dalam suatu ketetapan bahwa dalil syar’i yang dipergunakan oleh hukum amaliah itu, dikembalikan kepada empat hal, yakni al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’ dan qiyas. Keempat dalil ini sudah disepakati oleh umat Islam. Artinya, apabila orang mengemukakan suatu persoalan, maka mula-mula dilihat dalam al-Qur’an; kalau terdapat hukumnya maka kemudian dijalankan. Jika tidak terdapat dalam al-Qur’an, maka (kemudian) dilihat dalam as-Sunnah; kalau terdapat hukumnya dalam sunnah ini maka dijalankan. Tetapi kalau tidak ditemukan maka diperhatikan apakah para mujtahid masa lalu pernah bersidang untuk memecahkan masalah itu (ijma’); kalau sudah terdapat hukumnya maka dijalankan. Tetapi kalau tidak, maka dalam hal ini kita melakukan ijtihad sendiri yakni dengan qiyas (analogi) kepada keputusankeputusan yang berdasarkan nash.
Hadist sebagai Sumber Materill dalam Kehidupan Islam
Pengertian Hadist
Hadits secara bahasa memiliki beberapa arti, di antaranya yaitu, jadid “baru” lawan dari kata qadim “terdahulu” (dalam hal ini yang di maksud qadim adalah kitab Allah, sedangkan yang dimaksud jaded adalah hadist Nabi saw), qarib (dekat), dan khabar (warta berita atau sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada seseorang). Sedangkan pengertian hadits secara terminologi, maka terjadi perbedaan antara pendapat antara ahli hadits dengan ahli ushul.
Hadist sebagai sumber ajaran islam
Penempatan hadith Nabi sebagai salah satu sumber ajaran islam didasarkan atas adanya beberapa kenyataan berikut :
Hadith adalah penjelas bagi al-Qur’an
Pada dasarnya, tidak ada keterangan dari al-Qur’an atau dari pernyataan Nabi satu pun yang menyatakan bahwa hadith adalah penjelas dari al-Qur’an. Hanya saja, sebuah deduksi “hadith adalah penjelas dari al-Qur’an” ini didasarkan pada posisi dan fungsi Nabi sendiri ketika diutus sebagai seorang rasul bagi umat
Ayat-ayat tentang Perintah untuk Taat Kepada Rasulullah
Muhammad SAW yang berkedudukan sebagai rasul dalam al-Qur’an adalah terkait dengan misi ketuhanan dalam membentuk sebuah tatanan masyarakat “imani” berdasarkan risalah (Kitab Suci) al-Qur’an. Oleh karena itu, banyak ditemukan ayat-ayat al-Qur’an yang mengharuskan kaum Muslim untuk mentaati seruan-seruan beliau. Mentaati beliau berarti mentaati Allah.
Kedudukan Hadits Sebagai Sumber Ajaran Islam
Hadits dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat urgen. Dimana hadits merupakan salah satu sumber hukum kedua setelah Alquran. Alquran akan sulit dipahami tanpa intervensi hadits. Memakai Alquran tanpa mengambil hadits sebagai landasan hukum dan pedoman hidup adalah hal yang tidak mungkin, karena Alquran akan sulit dipahami tanpa menggunakan hadits.
Alam Semesta sebagai Sumber Materiil dalam Kehidupan Islami
Pengertian Alam Semesta
Definisi dari alam semesta itu sendiri adalah segala sesuatu yang ada pada diri manusia dan di luar dirinya yang merupakan suatu kesatuan system yang unik dan misterius. Alam syahadah atau alam materi sering juga disebut dengan alam fisik karenaalam syahadah merupakan alam yang dapat dicapai oleh indera manusia baik dengan menggunakan alat atau tidak, berbeda dengan alam ghoib yang tidak dapat tercapai olehindera. Alam syahadah dapat dibedakan menjadi alam raya (makrokosmos) dan alamzarrah (mikrokosmos). Dan dapat pula dibedakan menjadi alam nabati, hewani, dan insaniAl Quran menggambarkan alam semesta laksana sebuah kitab yang disusun oleh satuwujud yang arif, yang setiap baris dan katanya merupakan tanda kearifan penulisnya.
Tujuan Penciptaan Alam Semesta
Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa Tuhan memiliki tujuan dalam penciptaan alam semesta ini “Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan [tujuan] yang benar dan dalam waktu yang ditentukan.” (al-Ahqaf: 3). Ayat tersebut mengajak manusia untuk mencapai tujuan dari berbagai fenomena semesta melalui cara yang serius. Dengan demikian, tujuan alam diciptakan adalah bukan untuk dirusak, dicemari, dan dihancurkan. Akan tetapi adalah untuk difungsikan semaksimal mungkin dalam kehidupan.
Kedudukan Alam Semesta sebagai Sumber Ajaran Islam
Dalam Islam, konsep alam sangatlah luas dan mendalam. Sebab Alam tidak dimaknai secara fisik semata, melainkan juga meliputi dunia non-fisik (Ghaib). Hal itulah yang menjadi prinsip dasar alam dalam Islam, yaitu ‘Integratif’. Dimana alam bukan sekedar terdiri atas material kuantitatif, tetapi juga material kualitatif. Alam semesta berbicara kepada manusia melalui fenomena. Oleh karena itu, setiap fenomena memiliki makna. Alam semesta adalah simbol dari tingkat realitas yang lebih tinggi. Struktur alam semesta mengandung sebuah pesan spiritual bagi Manusia. Alam semesta merupakan wahyu yang sumber asalnya adalah sama dengan pengetahuan itu sendiri. Keduanya adalah manifestasi dari intelek universal, logos, dan alam semesta merupakan bagian integral dari seluruh alam semesta.
- Dalam Kehidupan Pribadi
Sebagai seorang pelajar muslim, penerapan ajaran Al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
a. Meningkatkan ketekunan dalam mempelajari Al-Qur’an dan Hadist.
b. Mempelajari ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dalam rangka meningkatkan keimanan.
c. Memanfaatkan waktu luang untuk menguasai suatu bidang keterampilan untuk bekal menghadapi masa yang akan datang.
d. Memiliki semangat keilmuan yang tinggi untuk kepentingan dunia dan akhirat.
e. Memperbanyak bergaul dengan teman-teman yang saleh.
- Dalam Kehidupan Keluarga
Sebagai seorang anak, penerapan ajaran Al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, antara lain:
a. Menaati ajuran dan bimbingan dari kedua orang tuanya.
b. Menjaga amanah yang diberikan kedua orang tuanya.
c. Menjaga nama baik kedua orang tuanya dengan membiasakan berperilaku terpuji.
d. Mendoakan orang tua agar senantiasa diberi perlindungan oleh Allah SWT.
e. Mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh.
- Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Sebagai anggota masyarakat, dalam menerapkan ajaran Al-Qur’an dan Hadist, antara lain:
a. Ikut berperan aktif dalam kehidupan masyarakat selama tidak melanggar norma-norma ucapan, perbuatan, maupun tingkah laku.
b. Menjaga kerukunan dan gemar menolong.
c. Rela berkorban demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang harmonis.
d. Gemar bermusyawarah dalam menghadapi permasalahan dalam masyarakat.
Aplikasi alam semesta dalam kehidupan Islami
Dalam perspektif Al-Qur’an, pengungkapan fenomena alam (al-ayat akkauniyah) disamping bertujuan untuk mengenal Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya, juga berfungsi sebagai prasarat untuk mewujudkan salah satu tujuan diciptakannya alam semesta ini, yakni untuk kesejahteraan dan manfaat sebesar-besarnya bagi manusia. Dalam Al-Qur’an penyediaan dan pemanfaatan alam sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia ini biasa dikenal sebagai doktrin tasykhir.
Komentar
Posting Komentar