Pendekatan Mistis dan Sufistik dalam Pendekatan Studi Islam

 A. Epistemologi Mistis dan Sufistik

1. Pengertian Mistis

Secara etimologi, mistisisme berasal dari bahasa Yunani yaitu Misterion dari akar kata Mytes yang mengandung arti orang yang mencari rahasia-rahasia kenyataan, Myen yang berarti menutup mata atau dekat. Kerahasiaan terutama tampak dalam istilah; kesadaran adanya hubungan langsung dengan Tuhan. Kesadaran adalah demikian dalamnya sehingga kehadiran Tuhan terasa begitu langsung. Sedangkan pengetahuan mistis ialah pengetahuan 2 yang tidak dapat dipahami rasio/yang tidak rasional, yaitu pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh melalui latihan meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan indera atau rasio

2. Epistemologi Mistis

pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat merasa. Sehingga hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh indera dapat diterima oleh hati dan rasa. Karena pada hakikatnya pengetahuan mistik ini tidak dapat dinalar oleh akal pikiran manusia dan yang pasti bahwa pengetahuan mistik tidak dapat di buktikan dengan indra manusia sewajarnya.

Adapun objek dari pengetahuan mistis adalah objek yang abstrak-suprarasional, seperti alam ghaib termasuk Tuhan, malaikat, surga, neraka dan jin. Termasuk objek-objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistis ialah objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supranatural seperti kebal, debus, pelet, penggunaan jin dan santet.

3. Pengertian Sufistikme

berasal dari kata sufi, sedangkan kata sufi berasal dari kata suf (bahasa arab) yang berarti bulu domba. Orang sufi biasanya memakai pakaian domba sebagai simbol kesederhanaan dan kesucian. Selain itu menghindarkan kemewahan dan keistimewaan dunia. Pakaian ini juga melambangkan sifat perlawanan dan protes terhadap pakaian kaum istana yang mewah.Pengertian sufisme adalah suatu ajaran tentang sikap, cara hidup untuk berhubungan dan mendekat kepada Tuhan hingga sedekat-dekatnya, berdasarkan pemahaman tertentu terhadap ajaran Islam.

4. Epistemologi Sufistik

Epistemologi sufi atau yang dikenal sebagai epistemologi irfani adalah salah satu model penalaran yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam, di samping bayani dan burhani. Epistemologi ini dikembangkan dan digunakan dalam masyarakat sufi.Tafsir sufistik adalah metode penafsiran yang menekankan aspek etika, ruhaniyah dan memberikan motivasi terhadap sikap zuhud, serta mengajarkan cara hidup yang sarat dengan orientasi kehidupan ukhrawi yang lebih banyak dari kehidupan duniawi.

Corak tafsir sufi terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Al-tafsir sufi Nazari

Al-tafsir sufi nazari adalah tafsir yang berpegang pada metode simbolis yang tidak berhenti hanya pada aspek

kebahasaan saja. Tafsir ini merupakan turunan dari tasawwuf nazari. Sering digunakan untuk memperkuat teori- teori mistis dari kalangan ahli sufi.

b. Al-tafsir al-sufi

Al-Isyari.Al-tafsir al-sufi al-Isyari menurut al-Zahabi adalah mentakwilkan ayat-ayat al-Quran yang berbeda dengan maknanya yang dzahir berdasarkan isyarat (petunjuk) khusus yang diterima oleh para ahli sufi.

Setelah membahas ketegorisasi tafsir tasawuf, maka dapat dilakukan pemetaan berdasarkan tinjauan epistemologinya. Sumber pengetahuan tafsir sufistik adalah intuisi dan teori filsafat. Intuisi diperoleh dari kasyf (penyingkapan) dan mujahadah yang telah mencapai ahwal (pengalaman spiritual karena kesungguhan dalam beribadah). Pendekatan yang digunakan adalah takwil. Metode yang digunakan adalah tahlili. Sedangkan validitas penafsiran cenderung pada penguasa yang ada saat itu dan teori keilmuan mufassir.

B. Pengaruh Mistis dan Sufistik dalam Dunia Modern

1. Pengaruh Mistis dalam Dunia Modern

Akibat dari kondisi modernitas, manusia mulai merasakan kebutuhan akan suatu dasar yang kuat bagi moralitas mereka, yang tidak didapatkan dari ilmu-ilmu fisik. Karenanya, pemahaman baru dalam realitas diperlukan jika berpendapat peradaban harus diselamatkan dari “sinisme dan amoralitas” yang ditimbulkan oleh modernitas dan terus-menerus berkembang. Salah satu jalan, adalah kembali pada ilmu pengetahuan secara tradisional, yang memulai pencarian keuniversalan dengan mempelajari hal-hal yang khusus yakni mitisme.

Mitisme merupakan jawaban dari suatu pemahaman baru atas realitas dunia, yakni pemahaman akan sebuah dunia yang organis. Karena mistisisme memiliki paham bahwa semua sebagai manifestasi dari "Yang Ilahi”, yang berarti menerima sifat aktif dan hidup.

2. Pengaruh Sufistik dalam Dunia Modern

Kehidupan modern dimana ditandai dengan revolusi sains teknologi dengan meningkatnya kontrol pada materi, ruang dan waktu menimbulkan evolusi pada bidang ekonomi, gaya hidup, pola pikir dan sistem rujukan. Dari sikap mental yang demikian itu, kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi, telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern, diantaranya adalah:

◦ Terjadi disintegrasi ilmu pengetahuan

◦ Terjadi penyalahgunaan iptek

◦ Terjadi perpecahan kepribadian

◦ Tuntutan material yang tidak pernah habis

◦ Stres dan Frustasi

◦ Kehilangan Harga Diri dan Masa Depannya.

Dalam mengatasi masalah yang membelenggu masyarakat modern ini, maka salah satu solusinya adalah kembali kepada agama dengan membumikan nilai-nilai spritual ke dalam kehidupan.

Wacana kehidupan sufistik yang sudah dihias dengan kondisi kekinian merupakan salah satu alternatif yang dapat disosialisasikan oleh masyarakat hari ini. Agama merupakan satu tawaran dalam kegersangan dan kehampaan spiritualitas manusia modern.

Tasawuf atau sufisme diakui dalam sejarah telah berpengaruh besar atas kehidupan moral dan spiritual Islam sepanjang ribuan tahun yang silam. Selama kurun waktu itu tasawuf begitu lekat dengan dinamika kehidupan masyarakat luas, bukan sebatas kelompok kecil yang eksklusif dan terisolasi dari dunia luar. Maka kehadiran tasawuf di dunia modern ini sangat diperlukan, guna membimbing manusia agar tetap merindukan Tuhannya, dan bisa juga untuk orang-orang yang semula hidupnya glamour dan suka hura-hura menjadi orang yang asketis (Zuhud pada dunia).

Kesimpulan

Studi Islam secara harfiyah adalah kajian tentang hal-hal yang berkaitan dengan keislaman makna ini angat umum karena segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam dikatakan studi Islam. Oleh karena itu, perlu ada spesifikasi pengertian terminologis tentang studi Islam dalam kajian ini yaitu kajian secara sistematis dan terpadu untuk mengetahui memahami dan menganalisis secara mendalam hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam baik yang menyangkut sumber-sumber ajaran Islam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kajian Historis Sebagai Pendekatan Dalam Kajian Keislaman

Fenomenologi Sebagai Pendekatan Studi Keislaman