Kajian Historis Sebagai Pendekatan Dalam Kajian Keislaman

 

Kajian Historis Sebagai Pendekatan Dalam Kajian Keislaman

 

A. Pendekatan Historis

Pengertian Pendekatan Historis

Secara etimologi pendekatan berasal dari kata dekat, pendekatan artinya proses, perbuatan, cara mendekati dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti atau metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Sedangkan sejarah berasal dari Bahasa Arab, syajarotun yang berarti pohon. Kata ini berkembang kemudian menjadi akar, keturunan, asal-usul, riwayat dan sisilah. Dalam Bahasa Inggris, kata sejarah dikenal dengan sebutan history yang berasal dari Bahasa yunani istoria yang berarti ilmu. Dari hal inilah pendekatan sejarah dalam studi Islam dapat diartikan sebuah sudut pandang objek kajian yang akan diteliti secara ilmiah dengan berdasar sejarahnya. Tentunya sejarah yang diangkat ke permukaan adalah sejarah terkait kajian islam yang menjadi objeknya.

 

Urgensi Pendekatan Sejarah dalam Metodologi Islam

Para ahli sejarah menjadikan objek dimaksud pada manusia (human), waktu (time) dan ruang (space) atau tempat. Karena itu yang dijadikan sasaran dalam kajian sejarah ialah semua usaha manusia pada suatu waktu dan pada suatu tempat tertentu. Sehubungan dengan objek sejarah seperti itu, maka sedikitnya terdapat tujuh lapangan hidup yang dibahas dalam ilmu sejarah: 1), Keluarga/seksualitas, 2) Jasmani, 3) Ekonomi, 4) Politik, 5) Ilmu Pengetahuan/pendidikan, 6) Kesenian, dan 7) Agama

Pendekatan sejarah dalam studi Islam tentunya memiliki banyak fungsi, namun Nugroho Notosusanto hanya menyebutkan empat fungsi sejarah yang dominan5, seperti halnya:

- Fungsi rekreatif

Pada fungsi rekreatif ini menekankan pada upaya untuk menumbuhkan rasa tertarik untuk belajar dan menulis sejarah. Kalau yang dipelajari berkait dengan sejarah naratif dan isi kisahnya mengandung hal-hal yang terkait dengan keindahan, maka akan melahirkan kesenangan dalam belajar.

- Fungsi inspiratif.

Fungsi ini terkait dengan suatu proses untuk memperkuat identitas dan mempertinggi dedikasi sebagai suatu bangsa. Dengan  menghayati berbagai peristiwa dan kisah-kisah kepahlawanan, memperhatikan karya karya besar dari para tokoh, akan memberikan kebanggaan dan makna yang begitu dalam bagi generasi muda. Karena itu, dengan mempelajari sejarah akan dapat mengembangkan inspirasi, imajinasi dan kreativitas generasi yang hidup sekarang dalam rangka hidup berbangsa dan bernegara.

- Fungsi instruktif.

Dalam hal ini sejarah dapat berperan dalam upaya penyampaian pengetahuan dan keterampilan kepada subjek belajar.

- Fungsi Edukatif.

Maksudnya adalah bahwa sejarah dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan keseharian bagi setiap manusia. Sejarah juga mengajarkan tentang contoh yang sudah terjadi pada kehidupan nyata

 

 

Metode Pendekatan Sejarah

a. Heuristik

Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Agar pencarian sumber berlangsung secara efektif, ada dua unsur penunjang heuristik harus diperhatikan yaitu :

1) Pencarian sumber harus berpedoman pada bibliografi kerja dan kerangka tulisan. Dengan memperhatikan permasalahan yang tersirat dalam kerangka tulisan (bab dan sub bab), peneliti akan mengetahui sumber-sumber yang belum ditemukan.

2) Dalam mencari sumber di perpustakaan, peneliti wajib memahami sistem katalog perpustakaan yang bersangkutan

 b. Interpretasi

Setelah fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interpretasi, yaitu penafsiran akan makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain. Penafsiran atas fakta harus dilandasi oleh sikap objektif. Kalaupun dalam hal tertentu bersikap subyektif, harus subyektif rasional, bukan subyektif emosional.

c. Historiografi

 Kegiatan terakhir dari penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya secara kronologis/diakronis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah.

 

 

 

B. Studi Islam Pada Masa Klasik

 Secara garis besar sejarah Islam di kelompokkan dalam tiga periode besar, yaitu periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800 M sampai sekarang).

Periode klasik merupakan jaman kemajuan dan di bagi ke dalam dua fase. Fase Pertama, fase ekspansi, integrasi dan puncak kemajuan.

1. Studi Islam Pada Masa Nabi

Menurut Sa‘ad Ramadhan periode klasik bermula ketika Nabi Muhamad SAW diutus oleh Allah menjadi Rasul. Ada yang berpendapat bahwa periode ini ditandai oleh peristiwa hijrah Rasul ke Madinah. Setelah Rasullullah wafat, barulah dilanjutkan oleh Khulafa Al-Rasyidun secara berturut-turut oleh Abu Bakar, Umar bin khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Pendidikan Islam pada Masa Rasulullah SAW dan Khulafa Al-Rasyidun dilakukan dalam kerangka memantapkan dasar-dasar ajaran Islam. Pada masa Rasulullah di Mekkah, Pendidikan lebih diarahkan pada dasar-dasar aqidah untuk memperkuat keimanan dan keyakinan akan keEsaan Allah di tengah praktik penyembahan berhala dan upaya merombak tradisi kafir Quraisy. Zuhairini, memaparkan materi pengajaran Rasulullah pada masa Mekkah ini adalah Pendidikan keagamaan, Pendidikan aqliyah dan ilmiyah, Pendidikan akhlaq dan budi pekerti serta Pendidikan jasmani dan kesehatan.

 

2. Studi Islam Pada Masa Dinasti Umayyah

Setelah wafatnya Khalifah Ali Bin Abu Thalib bentuk pemerintahan Islam yang dirintis Nabi Muhamad SAW berubah dari sistem demokrasi menjadi monarki (kerajaan) yaitu Dinasti Bani Umayyah

Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah. Pada masa kekuasaannya, Muawiyah banyak melakukan ekspansi sehingga membuat Islam menjadi besar. Dari pertemuan dan persatuan berbagai bangsa, suku dan bahasa, menimbulkan kebudayaan dan peradaban Islam yang baru.

Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan pun tidak ketinggalan. Misalnya, bidang–bidang kedokteran, filsafat, kimia, astronomi, dan ilmu ukur berkembang dengan sangat pesat. Pada Masa Umayyah, pusat penyebaran ilmu pengetahuan pada terdapat di masjid-masjid. Ilmu pengetahuan agama yang berkembang pada saat itu antara lain ialah ilmu qiraat, tafsir, hadis, fikih, nahwu, balaghah, dan lain-lain

Pada Masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra, sejarah penulisan hadist dimulai. Khalifah merasa khawatir akan merosot dan hilangnya ilmu karena meninggalnya para ulama.

Dan setelah itu pengumpulan dan kodifikasi hadis berlanjut dengan metode penulisan yang bermacam-macam. Pada masa Dinasti Umayyah, ilmu pengetahun berkembang dalam tiga bidang, yaitu :

1. Bidang Diniyah

2. Bidang Tarikh

3. Bidang Filsafat

3. Studi Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah

Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari bani Umayyah. Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al Rasyid (786-809 M) dan putranya Al Ma‘mun (813-833M). di bawah putranya Al Ma‘mun kebangkitan budaya dan keilmuan mencapai puncaknya. Al Ma‘mun mendirikan rumah kebijaksanaan (Baitul Hikmah) di Baghdad dan kegiatan utamanya adalah penerjemahan karya-karya filsafat dan ilmu pengetahuan asal Yunani.

Berbagai ilmu telah lahir pada periode dinasti ini. Hal ini dikarenakan antara lain, penerjemahan buku berbahasa asing seperti halnya Yunani, Mesir, Persia, India, dan lain-lain kedalam Bahasa Arab dengan sangat gencar dan penelitian dan pengkajian yang dilakukan oleh kaum muslimin itu sendiri. Buku-buku yang diterjemahkan antara lain, Ilmu kedokteran, Kimia, Ilmu Alam, Mantiq (logika), Filsafat Al Jabar, Ilmu Falaq, Matematika, Seni dan lain-lain

4. Studi Islam Pada Masa Dinasti Fatimiyah

Setelah Mesir di kuasai selama empat tahun (969 -973 M), Dinasti Fatimiyyah telah mengalami masa kejayaannya. Zaman kejayaan ini di tandai dengan salah satunya di bidang Ilmu pengetahuan. Hal ini terbukti adanya minat masyarakat yang selalu membanjiri pusat ilmu pengetahuan. Lembaga pendidikan banyak di bangun antara lain Universitas Al Azhar dan Al hikmah sekaligus dilengkapi perpustakaan yang besar.

 

 C. Studi Islam Pada Masa Pertengahan

Pada periodesasi Islam masa pertengahan terdapat tiga kerajaan besar yang eksis pada saat itu. Kerajaan tersebut yaitu Kerajaan Utsmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Pada masa ini perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan tidak seperti pada masa klasik, tetapi adanya tiga kerajaan besar tetap memberi gambaran perkembangan dan kemajuan.

1. Kerajaan Utsmani di Turki

Sejarah Singkat Kerajaan Utsmani

Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari Kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Kemudian menginvasi beberapa daerah di Asia Tengah. pergi ke Anatolia untuk meminta perlindungan kepada bangsa Turki yang menetap di Dinasti Saljuk. Kemudian muncullah seorang pemimpin dari bangsa Turki keturunan Oghuz yang bernama Utsman bin Erthgrul yang merupakan Gubernur wilayah di Anatoia pada masa Sultan Alauddin. Ia adalah orang yang berhasil mengusir bangsa Mongol dan kemudian mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Turki Utsmani (Ottoman Empire).

Pendidikan Pada Masa Kerajaan Utsmani

Kemajuan pendidikan pada masa kerajaan Utsmani adalah dengan mendorong madrasah mempelajari beragam ilmu pengetahuan. Beberapa ulama seperti ulama dari Iran dan Mesir didatangkan untuk mengajar agar kualitas pengajaran semakin meningkat. Pada masa Sultan Al-Fatih terdapat sekolah yang tersebar di semua kota hingga desa terpencil. Sekolah tersebut terorganisir, berjenjang, dan memiliki kurikulum serta bersistem jurusan. Selain itu, adanya penerjemahan khazanah lama dari bahasa Yunani, Latin, Persia, dan Arab ke dalam bahasa Turki.

2. Kerajaan Safawi di Persia Sejarah

Singkat Kerajaan Safawi

Kerajaan Safawi didirikan oleh Safi Al Din yang merupakan salah satu keturunan Imam Syi‘ah yang keenam yaitu Musa Al Kazim. Safi Al Din berasal dari keturunan orang yang berada dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya.

Safi Al Din mendirikan tarekat Safawiyah yang pada mulanya bertujuan untuk memerangi orang-orang ingkar dan golongan ahli-ahli bid‘ah. kemudian dalam perkembangannya gerakan tasawuf tersebut menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syiria, dan Anatolia.

Pendidikan Pada Masa Kerajaan Safawi

Puncak kejayaan Kerajaan Safawi terjadi pada pemerintahan Abbas I, dengan bukti ia berhasil membangun 162 masjid dan 48 pusat pendidikan. Sumber lain menyebutkan bahwa sekolah dan lembaga pendidikan tersebut dibangun oleh para kerabat kerajaan.

 Beberapa madrasah yang didirikan, antara lain:

a. Small grandmother, didirkian oleh Dilaram Khanum (nenek dari syah Abbas II)

b. Large grandmother, didirkian oleh Dilaram Khanum (nenek dari syah Abbas II)

c. Nim Avard, didirikan oleh Zinat Begum yang merupakan istri dari seorang fisikawan Hakim al-Mulk Ardistani

 Selain madrasah, ilmu pengetahuan juga dikembangkan melalui pendidikan di perguruan tinggi serta berbagai perpustakaan yang menyimpan karya penelitian ilmiah. Di kota Qum terdapat berbagai perguruan tinggi seperti sekolah tinggi, institut, universitas, serta tempat penelitian dan kajian ilmiah.

Pada masa itu, hak perempuan lebih bebas sehingga para perempuan juga memperoleh pendidikan. Bahkan beberapa perempuan kerabat kerajaan dan bangsawan turut membangun pusat pendidikan seperti madrasah dan majelis ilmu. Ada pula beberapa ilmuan dalam masa Kerajaan Safawi, yaitu:

a. Baha al-Din al—Syirazi (generalis ilmu pengetahuan)

b. Sadr al-Din al-Syirazi atau Mulla Sadra (filsuf)

c. Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad (filsuf, sejarawan, dan teolog)

3. Kerajaan Mughal di India

Kerajaan Mughal Dinasti Mughal (1256-1858 M) merupakan kekuasaan Islam terbesar pada anak benua India, yang didirikan oleh Zahiruddin Babur (1526-1530 M)

Pendidikan Pada Masa Kerajaan Mughal

a. Masjid sebagai tempat belajar agama bagi masyarakat

Pada masa itu, di tiap-tiap masjid tersedia ulama yang memberikan pengajaran berbagai cabang ilmu agama, bahkan tersedia ruangan khusus untuk para pelajar yang ingin tinggal di masjid selama masa pendidikan.

b. Khanqah (pesantren) Ilmu yang diajarkan pada khanqah yaitu ilmu pengetahuan seperti matematika, logika, filsafat, tafsir Qur‘an, hadits, fiqh, sejarah, dan geografi.

c. Kegiatan pendidikan pada kerajaan

1) Fase klasik Kemajuan pendidikan jauh lebih kompleks khususnya pada bidang intelektual, baik ilmu keagamaan, politik, peradaban dan kebudayaan seperti bidang ilmu pengetahuan dan filsafat.

2) Fase modern Pada fase modern umat Islam hanya melakukan taklid yang ada pada Islam masa klasik sehingga tidak tampak adanya ijtihad mutlak.

Kerajaan Mughal memiliki keunggulan di bidang seni.Karya seni yang menojol yaitu karya sastra gubahan penyair istana berbahasa Persia dan India. Pada masa Shah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi yang nantinya akan terus bertambah pada pemerintahan Aurangzeb. Terdapat pula hukum Islam yang dikenal dengan Fatwa Alamgiri. Pada masa itu ditetapkan kebijakan larangan minuman keras, perjudian, prostitusi, dan narkotika.

D. Studi Islam Pada Masa Modern

Pembaharuan Islam

Hakikat pembaruan merujuk kepada makna kata tajdid (Pembaharuan), tajdid disini mencerminkan suatu tradisi yang berlanjut, yaitu suatu upaya menghidupkan kembali keimanan Islam beserta praktik-praktiknya dalam komunitas kaum muslimin. Pembaruan dalam Islam bukan dalam hal menyangkut dasar atau fundamental ajaran Islam, artinya bahwa pembaruan Islam bukan dimaksudkan untuk mengubah, memodifikasi atau merevisi nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam supaya sesuai dengan selera jaman, melainkan lebih terkait dengan penafsiran terhadap ajaran-ajaran dasar agar sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman.

Terkait dengan ini, maka dapat dipahami bahwa pembaruan merupakan aktualisasi ajaran tersebut dalam perkembangan sosial. Pembaharuan ini dengan tujuan yang tidak dapat dilepaskan dari misi yang diemban oleh gerakan tersebut. Pembaruan Islam memiliki dua misi ganda, yaitu misi purifikasi (pemurnian) dan misi implementasi ajaran Islam di tengah tantangan jaman.

 

Urgensi Pembaharuan Islam di Era Modern

Faktor gerakan pembaharuan dalam sejarah Islam didorong oleh ajaran Islam itu sendiri, yaitu ketika pengamalan ajaran Islam telah mengalami pergeseran dari sumber utama ajaran Islam itu sendiri dalam hal ini Al-Quran dan As-Sunnah Al- Maqbûlah. Sementara itu, cepatnya kemunculan gerakan pembaharuan Islam tersebut dipengaruhi dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah faktor ajaran Islam itu sendiri (ajaran Islam mendorong untuk melakukan pembaharuan). Sedangkan faktor eksternal yang melatarbelakangi adanya suatu tindakan dalam pembaharuan Islam, khususnya masa modern, menurut klaim Barat, gerakan Islam yang muncul pada masa modern dipengaruhi oleh Barat.

Era Modern

Masa pembaharuan (modern) bagi dunia Islam adalah masa yang dimulai dan tahun 1800 M sampai sekarang. Masa pembaharuan ditandai dengan adanya kesadaran umat Islam terhadap kelemahan dirinya dan adanya dorongan untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada awal-awal masa pembaharuan, umat Islam telah menyimpang dari ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur‘an dan Hadis. Penyimpangan itu terdapat dalam hal :

1. Ajaran Islam tentang ketauhidan telah bercampur dengan kemusyrikan

Hal ini ditandai dengan banyaknya umat Islam yang selain menyembah Allah SWT contohnya : memuja makam yang dianggap keramat dan meminta tolong dalam urusan gaib kepada dukun-dukun dan orangorang yang dianggap sakti.

 2. Adanya kelompok umat Islam, yang selama hidup di dunia ini, hanya mementingkan urusan akhirat dan meninggalkan dunia

Mereka beranggapan hahwa memiliki harta benda yang banyak, kedudukan yang tinggi dan ilmu pengetahuan tentang dunia adalah tidak perlu, karena hidup di dunia ini hanya sebentar dan sementara, sedangkan hidup di akhirat bersifat kekal dan abadi.

3. Banyak umat Islam yang menganut paham fatalisme, yaitu paham yang mengharuskan berserah diri kepada nasib dan tidak perlu berikhtiar, karena hidup manusia dikuasai dan ditentukan oleh nasib.

Penyimpangan umat Islam terhadap ajaran agamanya tersebutlah yang sudah seharusnya menjadi pendorong lahirnya para tokoh pembaharu yang berusaha menyadarkan umat Islam agar kembali kepada ajaran Islam yang benar, yang bersumber kepada Al-Quran dan As-Sunnah (hadist).

 

Sejarah Islam Sejak Abad ke-19 Modern, Modernitas, dan Moderasi

Periode setelah abad ke- 19 disebut sebagai periode modern dalam kajian sejarah Islam. Dalam konteks ini kata modern‘ digunakan sebagai kata sifat yang menunjukkan satu rentangan waktu sebagai kelanjutan dari periode klasik dan periode pertengahan. Ketika disebutkan kata islam Modern‘, yang dimaksudkan adalah fenomena historis Islam yang terjadi sejak tahun 1800 hingga saat ini.

Syahrin Harahap berpendapat bahwa manusia modern, yaitu manusia yang telah menghayati modernitas, menganut dan menerapkan nilai-nilai fundamental berikut:

1. Penghormatan terhadap akal

2. Jujur dan memiliki tanggungjawab personal

3. Kemampuan menunda kesenangan abadi demi kesenangan sesaat

4. Komitmen waktu dan etos kerja tinggi

5. Keyakinan akan keadilan yang merata

6. Penghargaan tinggi terhadap ilmu pengetahuan

7. Perencanaan masa depan

8. Penghargaan terhadap bakat dan kemampuan

9. Penegakan moralitas

 

Dalam konteks sejarah Islam, modernitas jelas menjadi tujuan atau cita cita utama dalam dua abad terakhir. Modernisasi dapat diposisikan sebagai tema besar sejarah Islam periode modern. Modernisasi merambah semua aspek kehidupan umat Islam tanpa kecuali. Modernisasi berlangsung di semua wilayah Dunia Islam, meskipun dengan intensitas dan tingkat kemajuan yang saling berbeda.


Komentar