Fakta Ilmiah Al-Qur'an
1. Fakta
Ilmiah
Fakta
ilmiah adalah deskripsi akurat tentang apa yang teramati, atau pernyataan
objektif yang dapat dikonfirmasikan kebenarannya tentang sesuatu yang benar-benar
ada atau peristiwa yang benar-benar terjadi. Pada abad ke tujuh saat Al-Qur`an
di turunkan, bangsa Arab memiliki beberapa kepercayaan tahayul dan tanpa
didasari bukti terhadap hal-hal yang berbau ilmiah. Ketiadaan teknologi untuk
meneliti tentang alam semesta, menyebabkan bangsa Arab kala itu mempercayai
legenda-legenda dari nenek moyang mereka. Misalnya mereka percaya bahwa Bumi
menopang langit yang berada diatasnya. Mereka yakin bahwa Bumi ini rata dan
terdapat gunung-gunung tinggi yang berada di kedua tepinya. Waktu itu diyakini
bahwa gunung-gunung tersebut merupakan tiang penyangga yang membuat kubah
langit tetap berada diatas sana.
Namun demikian,
semua kepercayaan tahayul bangsa Arab ini kemudian dihapuskan oleh Al-Qur`an.
Surat Ar-Ra`ad [13] ayat 2 misalnya yang menyebutkan bahwa:
“Allah-lah yang
meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat,……”
Telah jelas
menghapus kenyakinan bahwa langit tetap berada di atas sana atas keberadaan
gunung-gunung.
Dalam banyak hal
lain maka fakta penting diungkapkan dimasa tak mungkin seorangpun mampu
mengetahuinya. Al-Qur`an yang di turunkan dimasa manusia yang sedikit sekali
mengetahui tentang Astronomi, fisika atau biologi, berisi fakta-fakta kunci
tentang berbagai hal. Seperti penciptaan alam semesta, penciptaan manusia,
struktur atmosfir dan keseimbangan sempurna yang memungkinkan adanya kehidupan
di muka Bumi ini.
2. Fakta-fakta
ilmiah yang telah diungkapkan oleh Al-Qur`an:
1. Penciptaan alam
semesta
Asal muasal alam semesta digambarkan di dalam Al-Qur`an pada ayat berikut;
“Dia pencipta
langit dan bumi, bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai
isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala
sesuatu” (QS. Al-An`aam [6] ayat 101)
Keterangan yang
diberikan oleh Al-Qur`an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmiah ilmu
pengetahuan pada masa sekarang ini. Kesimpulan yang di dapatkan Astrofisika
saat ini adalah, bahwa keseluruhan alam semesta beserta dimensi materi dan
waktu muncul dan ada oleh hasil dari suatu ledakan raksasa yang terjadi dalam
waktu sekejab. Peristiwa ini yang dikenal dengan Big Bang membentuk
keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Jagat raya tercipta
dari suatu ketiadaan sebagai ledakan satu titik tunggal.
Kalangan ilmuwan
modern menyetujui bahwa Big Bang adalah satu-satunya penjelasan masuk
akal dan membuktikan tentang bagaimana asal muasal alam semesta tercipta dan
menjadi ada. Sebelum Big Bang tak ada yang disebut sebagai materi.
Dari kondisi ketiadaan dimana materi, energi bahkan waktu belumlah ada dan
hanya mampu diartikan secara metafisika, terciptalah materi, energi dan waktu.
Fakta ini yang baru saja ditemukan oleh ahli fisika modern, sesungguhnya telah
diberitakan oleh Al-Qur`an 14 abad yang lalu.
2. Orbit
Tatkala merujuk pada matahari dan bulan di dalam Al-Qur`an, bahwa semua
bergerak pada masing-masing garis orbit atau edar tertentu.
“Dan Dia-lah yang
telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari
keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiyaa [21] ayat 33)
Disebutkan pula
dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam tetapi bergerak pada garis
edar tertentu.
“Dan matahari
berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi
Maha Mengetahui” (QS. Yaasiin [36] ayat 38)
Fakta-fakta yang
disampaikan dalam Al-Qur`an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomi di
zaman kita sekarang. Menurut perhitungan para ahli astronomi bahwa Matahari
bergerak dengan kecepatan luarbiasa yang mencapai 720.000 Km/jam kearah bintang
Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solarafeks. Ini berarti Matahari
bergerak sejauh ± 17.280.000 Km/hari. Bersama Matahari, semua planet dan
satelit yang berada dalam sistem gravitasi Matahari juga berjalan menempuh
jarak ini. Selanjutnya semua bintang di alam semesta berada dalam satu gerakan
serupa yang terencana.
Keseluruhan alam
semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan
dalam Al-Qur`an sebagai berikut:
“Demi langit yang
mempunyai jalan-jalan[2],” (QS. Adz-Dzaariyaat [51] ayat 7)
[2] Yang dimaksud adalah orbit bintang-bintang dan planet-planet.
Terdapat ± 200 milyar Galaxi di alam semesta ini, dan masing-masingnya terdiri
hampir dari 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet
dan sebagian besar planet-planet ini memiliki bulan. Semua benda langit
tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat
teliti. Selama jutaan tahun masing-masing seolah berenangan sepanjang garis
edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang
lainnya. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama garis edar yang
ditetapkan baginya.
Garis edar di alam
semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaxi-galaxi pun
bergerak dengan kecepatan yang luarbiasa dalam satu garis edar yang terhitung
dengan penuh rencana dan teliti. Selama pergerakan ini, tak satupun benda
angkasa ini memotong lintasan yang lain atau bertabrakan dengan yang lainnya.
Bahkan telah teramati bahwa sejumlah Galaxi berpapasan satu dengan yang lainnya
tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.
Dapat dipastikan
bahwa pada saat Al-Qur`an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini
atau teknologi canggih untuk mengamati luar angkasa yang berjarak jutaan kilometer.
Tidak pula pengetahuan fisika maupun astronomi modern. Karenanya, saat itu
tidaklah mungkin mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa dipenuhi oleh
lintasan dan garis edar sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat tersebut diatas.
Akan tetapi hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita di dalam Al-Qur`an
yang diturunkan sejak saat itu.
3. Atap pelindung
Dalam Al-Qur`an, Allah SWT mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat
menarik tentang langit.
“Dan Kami
menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara[3], sedang mereka berpaling
dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya” (QS.
Al-Anbiyaa` [21] ayat 32)
[3] Maksudnya: yang ada di langit itu sebagai atap dan yang dimaksud
dengan terpelihara ialah segala yang berada di langit itu dijaga oleh Allah
dengan peraturan dan hukum-hukum yang menyebabkan dapat berjalannya dengan
teratur dan tertib
Sifat langit ini
telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke 20. Atmosfer yang melingkupi
Bumi berperan sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan. Dengan
menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati
Bumi, atmosfer mencegah mereka jatuh ke Bumi yang dapat membahayakan makhluk
hidup.
Atmosfer juga
menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan bagi kehidupan.
Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar yang tak
berbahaya dan berguna, seperti cahaya tampak, sinar Ultraviolet Tepi, dan
gelombang radio. Semua radiasi ini sangatlah diperlukan bagi kehidupan. Sinar Ultraviolet
Tepi yang sebagian kecil menembus atmosfir sangat penting bagi fotosintesis
bagi tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar
ultraviolet kuat yang dipancarkan oleh Matahari, ditahan oleh lapisan Ozon
atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spectrum ultraviolet
yang mencapai Bumi.
Fungsi dari
pelindung atmosfer tidak berhenti sampai disini saja. Atmosfer juga melindungi
Bumi dari suhu dingin membeku yang ada di luar angkasa. Yang mencapai suhu 270°
C di bawah nol. Sehingga atmosfer melindungi Bumi dari bahaya.
4.
Lapisan-lapisan atmosfer
Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur`an
adalah bahwa langit terdiri dari tujuh lapis.
“Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 29)
“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua
masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit
yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan
sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui” (QS. Fushshilat [41] ayat 12)
Kata langit yang
kerap muncul di banyak ayat Al-Qur`an, digunakan untuk mengacu pada langit Bumi
(atmosfer) dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini,
terlihat bahwa langit Bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan. Saat ini,
benar-benar diketahui bahwa atmosfir Bumi terdiri dari lapisan-lapisan yang
berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis yang telah disebutkan
oleh Al-Qur`an bahwa atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.
Para ilmuwan
menemukan bahwa atmosfer terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan-lapisan
tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya.
Lapisan
Atmosfer, Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, Inosfer, dan Eksosfer.
Adalah sebuah
keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi
canggih abad ke 20 namun secara jelas telah disebutkan oleh Al-Qur`an 1400
tahun yang lalu.
5.
Funsi gunung sebagai pasak
Al-Qur`an juga mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologi penting dari
Bumi.
“Dan telah Kami
jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang
bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang
luas, agar mereka mendapat petunjuk” (QS. Al-Anbiyaa` [21] ayat 31)
Sebagaimana
terlihat dan dinyatakan pada ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi
mencegah goncangan di permukaan Bumi. Kenyataan ini tidaklah mungkin diketahui,
dimasa ketika Al-Qur`an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru terungkap sebagai
hasil penelitian geologi modern.
Menurut penemuan
ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil dari pergerakan permukaan dan
lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak Bumi. Kedua lempengan
bertubrukan, lempengan yang lebih kuat menyelip dibawah lempengan satunya.
Sementara yang diatas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan
bawah bergerak dibawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam kebawah.
Ini berarti gunung-gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh kebawah yang tak
kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan Bumi.
Dalam tulisan
ilmiah, struktur Bumi digambarkan sebagai berikut: “Pada bagian benua yang
lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak Bumi akan terbenam lebih
dalam kedalam lapisan magma” (Genaral Science. Carolyn Shoots, Robert
Gerdner, Samuel F, Howe, Allyn and Bacon. Inc Newton Massachusetts. 1985. hal.
30)
Dalam sebuah ayat,
peran gunung seperti ini diungkapkan dalam perumpamaan sebagai pasak.
“Bukankah Kami
telah menjadikan Bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai
pasak?,” (QS. An-Naba` [78] ayat 6-7)
Dengan
kata lain, gunung-gunung mengenggam lempengan-lempengan kerak Bumi dengan
memanjang keatas dan kebawah permukaan Bumi pada titik pertemuan
lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini mereka memancangkan kerak Bumi dan
mencegahnya dari terombang-ambing diatas cairan magma atau diantara
lempengan-lempengannya. Seingkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku
yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi
pemancangan dari Bumi dijelaskan dalam tulisan ilmiah Isostasy. Yang memiliki
makna: “Kesetimbangan dalam kerak Bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan
dibawah permukaan akibat tekanan gravitasi”
6.
Lautan yang tidak bercampur satu sama lainnya
Salah satu dari sekian banyak sifat dari lautan yang baru-bari ini ditemukan
adalah berkaitan dengan ayat Al-Qur`an sebagai berikut:
“Dia membiarkan
dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas
yang tidak dilampaui masing-masing” (QS. Ar-Rahmaan [55] ayat 19-20)
Sifat lautan yang
saling bertemu akan tetapi tidak bercampur antara satu sama lainnya ini telah
temukan oleh para ahli kelautan. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan
“Tegangan Permukaan” air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu.
Akibat adanya perbedaan massa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari
bercampur antara satu sama lainnya. Seolah terdapat dinding tipis yang
memisahkan mereka.
Sisi menarik dari
hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun
mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini telah
dinyatakan di dalam Al-Qur`an.
7.
Sidik jari
“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan
sempurna” (QS. Al-Qiyamah [75] ayat 4)
Penekanan pada
sidik jari memiliki makna yang sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap
orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah
hidup di dunia ini, memiliki serangkaian bentuk sidik jari yang unik dan
berbeda dari orang lain. Itulah mengapa, sidik jari digunakan untuk kartu identitas
yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh
penjuru dunia
Akan tetapi yang
unik adalah bahwa keunikan yang terdapat pada sidik jari ini baru ditemukan di
akhir abad ke 19. Sebelumnya, orang hanya menghargai bahwa sidik jari hanyalah
sebuah lengkungan tanpa makna khusus. Namun dalam Al-Qur`an, Allah SWT merujuk
pada sidik jari yang sedikitpun tidak menarik perhatian orang pada waktu itu,
dan mengarahkan perhatian kita akan arti penting dari sidik jari yang baru
mampu dipahami oleh para ahli di zaman sekarang.
8.
Tiga tahapan janin dalam rahim
Dalam Al-Qur`an bahwa manusia dipaparkan melalui tiga tahapan di dalam rahim
ibunya.
“……, Dia
menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga
kegelapan[5]. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang
mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat
dipalingkan?” (QS. Az-Zumar [39] ayat 6)
[5] Tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim,
dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.
Sebagaimana yang
akan dipahami dalam ayat ini yang ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan
dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh biologi modern
telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat
yang berbeda di dalam rahim ibu. Sekarang di semua
buku embriologi yang digunakan dalam beberapa fakultas kedokteran,
hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku “Basic
Human Embriologi” sebuah buku referensi utama dalam embriologi, fakta ini
diuraikan sebagai berikut; “Kehidupan dalam rahim memiliki tiga
tahapan. Pre embrionik 2,5 minggu pertama, embrionik sampai
akhir minggu ke delapan, dan janin dari minggu kedelapan sampai kelahiran.
Fase-fase ini
mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Informasi
yang terjadi mengenai janin dalam rahim ini baru didapatkan setelah serangkaian
pengamatan dan menggunakan peralatan modern. Namun, sebagaimana fakta ilmiah
lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Al-Qur`an dengan
cara yang ajaib. Fakta yang sedemikian rinci dan akurat diberikan oleh
Al-Qur`an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang
kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al-Qur`an bukanlah ucapan manusia,
melainkan firman dari Allah SWT.
3. Keajaiban Al-Qur’an
1) Kemenangan kaum Muslim
Sisi keajaiban dari Al-Qur`an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sebuah
peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat 27 dari surat Al-Fath [48]
misalnya memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa kelak akan
menguasai kota Mekkah yang pada saat itu adalah penyembah berhala.
“Sesungguhnya
Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan
sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram,
insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan
mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang
tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat[6]”
[6] Selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah Nabi
Muhammad SAW. bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah
dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan
sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi
nanti. Kemudian berita ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik,
orang-orang Yahudi dan Nasrani. Setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum
muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah maka orang-orang munafik
memperolok-olokkan Nabi dan menyatakan bahwa mimpi Nabi yang dikatakan beliau
pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat ini yang
menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan
datang. Dan sebelum itu dalam waktu yang dekat Nabi akan menaklukkan kota
Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya Perdamaian Hudaibiyah itu kaum muslim
memasuki kota Mekah, maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang
menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.
2)
Kemenangan Bizantium
Penggalan berita lain yang berhubungan dengan masa depan di dalam Al-Qur`an
ditemukan dalam ayat pertama surat Ar-Ruum [30] yang merujuk pada kekaisaran
Bizantium wilayah timur kekaisaran Romawi. Dalam ayat ini disebutkan bahwa
kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar tetapi akan kembali
mendapatkan kemenangan.
“Telah dikalahkan
bangsa Rumawi[7], di negeri yang terdekat/terendah[8] dan mereka sesudah
dikalahkan itu akan menang[9], dalam beberapa tahun lagi[10]. Bagi Allah-lah
urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa
Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,” (QS. Ar-Ruum [30]
ayat 2-4)
Bangsa Rumawi adalah satu bangsa yang beragama Nasrani yang mempunyai
Kitab Suci sedang Bangsa Persia adalah beragama Majusi, menyembah api dan
berhala (musyrik). Kedua bangsa itu saling perang memerangi. Ketika tersiar
berita kekalahan bangsa Rumawi oleh bangsa Persia, maka kaum musyrik Mekah
menyambutnya dengan gembira karena berpihak kepada orang musyrikin Persia.
Sedang kaum muslimin berduka cita karenanya. Kemudian turunlah ayat ini dan
ayat yang berikutnya menerangkan bahwa bangsa Rumawi sesudah kalah itu akan
mendapat kemenangan dalam masa beberapa tahun saja. Hal itu benar-benar
terjadi. Beberapa tahun sesudah itu menanglah bangsa Rumawi dan kalahlah bangsa
Persia. Dengan kejadian yang demikian nyatalah kebenaran Nabi Muhammad s.a.w.
sebagai Nabi dan Rasul dan kebenaran Al Quran sebagai firman Allah.
Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi. Hampir tujuh tahun
dari kekalahan hebat Bizantium kristen di tangan bangsa Persia. Ketika itu
Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa
bangsa Romawi dalam waktu dekat akan menang. Padahal Bizantium pada waktu itu
telah menderita kekalahan sedemikian hebat sehingga tampak mustahil baginya
untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan
kembali.
3)
Informasi mengenai tempat terendah di muka Bumi
Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman fakta
geografis yang tak dapat ditemukan oleh orang pada masa itu. Dalam ayat ketiga
surat Ar-Ruum [30] memberitakan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan di tempat
yang paling rendah dari Bumi ini. Ungkapan “Adna al ard” diartikan
sebagai tempat yang dekat dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna
harfiah dari kalimat tersebut. Tetapi lebih berupa sebuah penafsiran atasnya.
Kata “Adna” dalam bahasa Arab diambi dari kata “Dani” yang
berarti rendah. Dan “Ardh” yang berarti Bumi. Karena itu,
ungkapan “Adna al Ard” berarti tempat paling rendah di Bumi. Yang
paling menarik, tahap-tahap peperangan antara kekaisaran Bizantium dan Persia
ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Yerusalem, benar-benar terjadi pada
titik terendah di Bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati.
Yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina
dan Yordania.
Laut Mati terletak
396 meter dibawah permukaan laut sehingga menjadikannya sebagai tempat terendah
di Bumi. Ini berarti Bizantium dikalahkan oleh bangsa Persia ditempat yang
terendah di Bumi. Persis seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur`an.
Hal menarik dari
fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati yang mampu diukur dengan teknik
pengukuran modern, sebelumnya menjadi mustahil untuk seseorang dapat mengetahui
bahwa wilayah ini adalah tempat terendah di Bumi. Namun, dalam Al-Qur`an tempat
ini dinyatakan sebagai tempat yang terendah di Bumi. Demikianlah, ini
membuktikan lagi bahwa Al-Qur`an adalah wahyu Illahi.
Kesimpulan :
Banyak
keajaiban dan fakta-fakta yang terjadi di masa lampau yang tercantum dalam
Al-Qur’an yang membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat bukan hanya
karangan manusia belaka, dengan mengetahui fakta ilmiah Al-Qur’an bertujuan untuk
meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT
Komentar
Posting Komentar