Ayat dan Surat dalam Al-Qur'an

 

1. Pengertian Ayat dan Surat dalam Al Qur'an

 a. Ayat Al-Qur'an

Ayat ialah kalimat dalam al-Qur'an, ia diketahui secara tauqifi (dengan nash dari Rasulullah saw.), bukan secara qiasi (analogi). Karena itu mereka menghitung (الٓمٓ) dan (الٓمٓصٓ) masing-masing sebagai satu ayat, tetapi tidak menghitung (الٓمٓ) dan (ألر), (حم) dan (يسٓ) masing-masing dihitung sebagai satu ayat, tetapi tidak demikian dengan (طسم), ayat hutang di surat al-Baqarah 282 panjangnya satu halaman penuh. Ayat (مدهامتان) adalah satu kata. menurut kesepakatan, tidak sah shalat dengan membaca hanya separuh ayat.

b. Surat-Surat Al-Qur'an

Al-Suratu dari kata al-su'ru yang artinya sisa minuman di dalam bejana. Karena itu, ia seakan-akan bagian al-Qur'an. Al-Suratu juga berarti kedudukan yang tinggi, sebab ia adalah kalam Allah yang tinggi.

Semua nama surat al-Qur'an ditetapkan secara tauqifi dari hadits-hadits nabawi. Hampir setiap satu surat mempunyai satu nama, tetapi ada juga yang memiliki lebih dari satu nama, seperti al-Fatihah: ia memiliki lebih dari dua puluh nama, diantaranya: Fatihatul Kitab, Ummul Kitab, Ummul Qur'an, al-Sab'ul Matsani dan lainnya. Ini menunjukkan kemuliaan surat al-Fatihan tersebut, sebab banyaknya nama  itu menunjukkan kemuliaan yang dinamai. Bara'ah dinamakan juga at-Taubah, Al-Isra' juga dinamakan Banu Isra'il.

Masing-masing surat dinamakan sesuai dengan spesifik yang terkandung di dalamnya, seperti penamaan surat al-Baqarah (Sapi beetina) karena kisah sapi yang disebutkan di dalamnya dan hikmah yang terkandung di dalam kisah ini. Dinamakan surat an-Nisa' (perempuan) karena surat ini banyak menyebutkan hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita. Selain itu ada surat-surat yang memakai nama para nabi seperti: Nuh, Muhammad, Ibrahim dan Yunus.

2. Jumlah Ayat dan Surat dalam Al Qur'an

a. Jumlah Ayat

Para ulama sepakat mengatakan bahwa jumlah ayat al-Qur’an lebih dari 6.200 ayat. Namun berapa ayat lebihnya, mereka masih berselisih pendapat.

 

Menurut Nafi’ yang merupakan ulama Madinah, jumlah tepatnya adalah 6.217 ayat. Sedangkan Syaibah yang juga ulama Madinah, jumlah tepatnya 6214 ayat. Lain lagi dengan pendapat Abu Ja’far, meski juga merupakan ulama Madinah, beliau mengatakan bahwa jumlah tepatnya 6.210 ayat.

Menurut Ibnu Katsir, ulama Makkah mengatakan jumlahnya 6.220 ayat. Lalu ‘Ashim yang merupakan ulama Bashrah mengatakan bahwa jumlahnya jumlah ayat al-Quran ialah 6205 ayat.

Hamzah yang merupakan ulama Kufah sebagaimana yang diriwayatkan mengatakan bahwa jumlahnya 6.236 ayat.

Dan pendapat ulama Syria sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya Ibn al-Harits mengatakan bahwajumlahnya 6.226 ayat.

Sebenarnya tidak ada yang beda di dalam ayat Alqur’an. Semua pendapat di atas berangkat dari ayat-ayat Alqur’an yang sama.

Yang berbeda adalah ketika menghitung jumlahnya dan menetapkan apakah suatu potongan kalimat itu menjadi satu ayat atau dua ayat.

Ada orang yang menghitung dua ayat menjadi satu. Dan sebaliknya juga ada yang menghitung satu ayat jadi dua. Padahal kalau dibaca semua lafadz Quran itu, semuanya sama dan itu itu juga. Tidak ada yang berbeda.

Lalu mengapa menjadi beda dalam menentukan apakah satu lafadz itu satu ayat atau dua ayat?

Jawabnya adalah dahulu Rasulullah SAW terkadang diriwayatkan berhenti membaca dan menarik nafas. Pada saat itu timbul asumsi pada sebagian orang bahwa ketika Nabi menarik nafas, di situlah ayat itu berhenti dan habis. Sementara yang lain berpandangan bahwa nabi SAW hanya sekedar berhenti menarik nafas dan tidak ada kaitannya dengan berhentinya suatu ayat.

Lagi pula, nabi SAW saat itu juga tidak menjelaskan kenapa beliau menarik nafas dan berhenti. Dan tidak dijelaskan juga apakah berhentinya itu menunjukkan penggalan ayat, atau hanya semata-mata menarik nafas karena ayatnya panjang.

Selain itu ada ulama yang menghitung kalimat “bismillahirrohmnirrohim” di awal surat sebagai ayat, dan ada pula yang tidak tapi hanya menghitung “bismillahirrohmanirrohim” pada surat Al-Fatihah saja sebagai bagian ayat Alqur’an, ini juga bisa mempengaruhi perhitungan.

Perbedaan dalam menghitung jumlah ayat ini sama sekali tidak menodai Alqur’an. Kasusnya sama dengan perbedaan jumlah halaman mushaf dari berbagai versi percetakan. Ada mushaf yang tipis dan sedikit mengandung halaman, tapi juga ada mushaf yang tebal dan mengandung banyak halaman.

Yang membedakanya adalah ukuran font, jenis dan tata letak (lay out) halaman mushaf. Tidak ada ketetapan dari Nabi SAW bahwa Alqur’an itu harus dicetak dengan jumlah halaman tertentu.

Berapa jumlah ayat Quran yang sebenarnya?

Mari kita hitung: Mulai dari Surah Fatihah yang diakhiri dengan nomor 7. Itu adalah jumlah ayat bagi surah tersebut. Kemudian pergi ke ujung surah 2 (Al-Baqarah) dan bertemu pula dengan angka 286. Teruskanlah, surah demi surah, hingga ke hujung surah terakhir, yaitu surah yang ke-114. Jumlahkan kesemua angka itu, dan jumlah yang didapati adalah jumlah ayat-ayat Alqur’an yang sebenarnya

Jumlah besar = 6,236 ayat

Setelah dijumlahkan didapatkan bahwa jumlah ayat di dalam Alqur’an adalah 6236 ayat tanpa memasukkan 112 bismillah di awal surat Jika dimasukkan kedalam perhitungan jumlahnya menjadi 6348 ayat, tetap tidak sampai 6666. Jumlah ini ternyata sama dengan jumlah ayat dalam list al-Qur’an digital. Allahu alam.

b. Jumlah Surat

Al-Qur'an dibagi menjadi 114 bab yang disebut "surah". "Surah" itu diatur berdasar panjangnya, dari yang terpanjang sampai yang terpendek, kecuali yang pertama (Surah Al-Fatihah), yang disebut "Pembukaan".

Al-Qur'an terdiri atas 114 surah.

3. Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun dalam Al Qur'an

Yang dimaksud dengan yang pertama dan terakhir diturunkan ada dua macam:

1. Ayat atau kelompok ayat yang pertama dan terakhir sekali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bagian ini disebut yang pertama dan terakhir diturunkan secara mutlak

2. Ayat atau kelompok ayat yang pertama dan terakhir sekali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam tema-tema tertentu, misalnya yang pertama dan terakhir diturunkan mengenai makanan, minuman, perang, dlsb.Bagian ini disebut yang pertama dan terakhir diturunkan dalam tema-tema tertentu.

 

Dalam menentukan ayat atau kelompok ayat mana yang pertama dan terakhir diturunkan, para ulama hanya berpatokan semata-mata kepada riwayat yang diterima, sama sekali tidak ada peran ijtihad dalam masalah ini kecuali dalam mentarjih manpendapat yang dinilai lebih kuat dibandingkan yang lainnya.

Ada empat pendapat ulama tentang yang pertama diturunkan secara mutlak

1. Yang pertama kali diturunkan adalah Surat Al-‘Alaq ayat 1-5

Pendapat ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah RA

2. Yang pertama kali diturunkan adalah Surat Al-Mudatsir 74:1-5

Pendapat ini juga berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim

3. Yang pertama kali diturunkan adalah Surat Al-Fatihah

Berdasarkan hadits riwayat Baihaqi dengan sanadnya dari Abi Maisarah 'Umar ibn Syurahbil.

4. Yang pertama kali diturunkan adalah Bismillahirrahmanirrahim.

Berdasarkan hadits riwayat al-Wâhidi dengan sanadnya dari Ikrimah dan al-Hasan.

 

Dari empat pendapat di atas, yang paling sahih dan paling kuat adalah pendapat yang pertama (Al-‘Alaq 1-5). Sedangkan pendapat yang kedua (Surat Al-Mudatsir) yang berdasarkan hadits Jâbir ibn ‘Abdillah, ada dua kemungkinan penjelasannya.

Pertama, menurut az-Zarkasyi, Jâbir mendengar Nabi SAW menyebutkan kisah permulaan turunnya wahyu, tetapi dia hanya mendengar bagian akhir kisah, dan tidak mendengar awalnya, sehingga dia mengira itulah ayat yang pertama kali diturunkan, padahal bukan. Sepertinya Jâbir belum mendengar apa yang diceritakan Nabi SAW tentang wahyu yang turun sebelum fatrah al-wahyi (terputusnya wahyu) sehingga beliau berijtihad bahwa Al-Mudatsir lah yang pertama kali turun. Kedua, menurut Manna’ al-Qaththân, pertanyaan kepada Jâbir itu mengenai surat yang pertama kali diturunkan secara lengkap. Jâbir menjelaskan bahwa Surat Al-Mudatsirlah yang diturunkan secara lengkap sebelum surat Iqra’ (Al-‘Alaq) selesai diturunkan, karena yang turun pertama kali dari surat itu hanyalah permulaannya saja. Hal yang demikian ini juga diperkuat oleh hadits Abu Salamah dari Jâbir yang juga terdapat dalam Sahih Bukhâri dan Muslim

 Yang Terakhir Diturunkan Secara Mutlak

Para ulama berbeda pendapat tentang ayat yang terakhir diturunkan secara mutlak. Masing-masing pendapat berdasarkan kepada atsar dari sahabat, dan tidak satupun pendapat yang berdasarkan hadits marfû’. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat Al-Baqarah 278

2. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat Al-Baqarah 281

3. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat Al-Baqarah 282

4. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat Ali 'Imrân 195

5. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat An-Nisâ’ 93

6. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat An-Nisâ’ 176

7. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat Al-Mâidah 3

8. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat At-Taubah 128-129

9. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat Al-Kahfi 110

10. Yang terakhir kali diturunkan adalah Surat An-Nashr.

Berbeda dengan yang pertama diturunkan, yaitu Surat Al-‘Alaq 1-5, diterima secara luas dan meyakinkan, berdasarkan hadits riwayat Bukhâri dan Muslim dari Ummul Mukminin ‘Aisyah RA, yang menceritakan apa yang dialami oleh Rasulullah SAW di gua Hira’, maka tentang yang terakhir diturunkan, dari 10 pendapat yang dikemukakan di atas, tidak ada satu pun yang berdasarkan riwayat yang marfû’ kepada Rasulullah SAW. Semuanya hanya berdasarkan ijtihad atau dugaan para sahabat.Ada yang merupakan ijtihad Ibn ‘Abbâs, Ibn Umar, Sa’id ibn al-Musayyab, Ummu Salamah, Barrâ’ ibn ‘Azib, ‘Aisyah, Ubay ibn Ka’ab, dan Mu’awiyah ibn Abi Sufyân.

 Oleh sebab itu tidak ada satu pun pendapat yang dapat diterima secara meyakinkan seperti halnya tentang yang pertama diturunkan. Anda boleh memilih salah satu dari pendapat-pendapat di atas, tentu dengan mengemukakan argumen tambahan. Az-Zarqâni di dalam kitabnya Manâhil al-‘Irfân fi ‘Ulûm Al-Qur’an lebih meyakini Surat Al-Baqarah ayat 281 sebagai yang terakhir diturunkan secara mutlak. Beliau Manna’ Khalil Qathan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terjemahan Mudzakkir (Jakarta:

Litera Antar Nusa, cet ke-8 tahun 2004), hlm. 92. mengemukakan dua alasan: Pertama, isyarat yang terakandung dalam ayat itu menunjukkan pungkasan wahyu dan ketentuan agama. Karena adanya peringatan untuk mempersiapkan hari kembalimenghadap Allah SWT dan menunjukkan ayat ini lebih tepat berposisi sebagai ayat terakhir dibanding ayat-ayat lain yang telah diturunkan. Kedua, penegasan bahwa Nabi SAW hidup selama sembilan malam sesudah ayat itu turun, sedangkan riwayat lain tidak membuat penegasan senada. 7

Di kalangan umat Islam Indonesia, boleh dikatakan yang paling populer ayat terakhir turun adalah Surat Al-Mâidah ayat 3 (al-yauma akmaltu lakum dînakum...). Ayat ini turun pada waktu Haji Wadâ’, tepatnya pada hari Wuquf di Arafah tgl 9 Zulhijjah Nabi meninggal tahun berikutnya pada tanggal 12Rabi’ul Awwal.

4. Pengertian dan Karakteristik ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

a. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

 Muhkam secara bahasa berasal dari kata hakama. Kata hukm berarti memutuskan antara dua hal atau lebih perkara, maka hakim adalah orang yang mencegah yang zalim dan memisahkan dua pihak yang sedang bertikai. Muhkam adalah sesuatu yang dikokohkan, jelas, fasih dan membedakan antara yang hak dan batil.

Sedangkan, mutasyabih secara bahasa berasal dari kata syabaha, yakni bila salah satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Syubhah ialah keadaan di mana satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain karena adanya kemiripan di antara keduanya secara konkrit atau abstrak

b. Karakteristik Muhkam dan Mutasyabih

1. Muhkam :

 • lafal yang diletakkab untuk suatu makna yang kuat dan mudah dipahami

 • ayat yang maknanya sudah jelas,tidak samar lagi

2. Mutasyabih :

 • ayat yang maknanya belum jelas sehingga memerlukan petakwilan untuk mengetahui maksudnya.

 • ayat mutasyabih memiliki kesamaran pada lafal dan maknanya.

5. Pengertian dan Karakteristik Ayat/Surat Makiyah dan Madaniyah

a. Pengertian Ayat/Surat Makiyah dan Madaniyah

Surah Makkiyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Makkah selama dua belas tahun lima belas bulan tiga belas hari; terhitung sejak 17 Ramadan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam sampai 1 Rabi’ul Awwal tahun ke-54 dari tahun kelahirannya. Ayat-ayat Makkiyah ini ada 86 surah atau 4.780 ayat.

Surah Madaniyah sendiri ialah ayat-ayat yang ke Madinah selama sembilan tahun sembilan bulan sembilan hari; terhitung sejak nabi berhijrah ke Madinah sampai pada 9 Dzulhijjah tahun ke-63 dari tahun kelahirannya. Ayat-ayatnya berjumlah 1.510 ayat dan mencangkup 28 surat. Setiap ayat yang turun setelah hijrah ke Madinah termasuk ke dalam surah Madaniyah.

b. Karakteristik Ayat/Surat Makiyah dan Madaniyah

Ciri surah Makkiyah umumnya pendek-pendek, seperti surah al-lkhlas. Surah Makkiyah diawali dengan kalimat “Ya ayyuhan nas” atau “Ya ayyuhal insan” dan berhubungan dengan akidah. Ciri lainnya terdapat kata “Kalla” yang disebut sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surah, ayat sajdah yang berjumlah enam belas ayat, terdapat kisah para Nabi dan umat terdahulu, kecuali al-Baqarah dan Ali ‘Imraan, mengandung seruan beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, terdapat kalimat sumpah pada setiap surahnya, dan diawali dengan huruf-huruf singkatan seperti alif lam mim, alif lam ra, ha mim, dan lainnya (kecuali surah al-Baqarah dan Ali ‘lmraan).

Adapun ciri ayat-ayatnya adalah panjang-panjang (tiwal), diawali dengan perkataan yaa ayyuhalladzina aamanu (wahai orang-orang yang beriman), kebanyakan berisi hukum-hukum, menceritakan orang-orang Mukmin, dan membicarakan orang , dan membicarakan orang ang berhijrah (kaum Muhajirin), kaum Anshar, dan kaum munafik serrta ahli kitab.

Dikalangan ulama terdapat beberapa pendapat tentang dasar (kriteria) untukmenentukan makiyah atau madaniyah suatu surat atau ayat Sebagian Ulama menetapkan lokasi turun ayat/surat sebagai dasar penentuan makkiyah dan madaniyah. Adapula yang mengatakan bahwa orang/golongan (subjek) yang menjadi kriteria penentuan makkiyah atau madaniyah. Kajian historis Al Qur'an dengan mencoba mempelajari sebab-turunnya waktu dan tempat turunnya apakah di Makkah sebelum hijrah nabi atau di Madinah pasca hijrah mengafiikan bahwa ayat-ayat Al Qur'an turun dalam konteks tuang dan waktu masyarakat Arab saat itu Dengan dernikian penggolongan ayat-ayat Al Qur'an kedalam Makki-Madani mengatikan makna lebih dari sekedar pemisahan tempat/waktu turunnya ayat-ayat Al Qur'an tersebut tapi mengartikan juga situasi dan kondisi apa yang terjadi masyarakat, setting masyarakat tempat turunnya Al Qur'an.


Dapat diambil kesimpulan bahwa :

Ayat ialah kalimat dalam al-Qur'an, Ayat (مدهامتان) adalah satu kata. menurut kesepakatan, tidak sah shalat dengan membaca hanya separuh ayat. Sedangkan surat, Al-Suratu dari kata al-su'ru yang artinya sisa minuman di dalam bejana. Karena itu, ia seakan-akan bagian al-Qur'an. Al-Suratu juga berarti kedudukan yang tinggi, sebab ia adalah kalam Allah yang tinggi. Al-Qur’an memiliki 6.236 ayat dan 114 surat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kajian Historis Sebagai Pendekatan Dalam Kajian Keislaman

Fenomenologi Sebagai Pendekatan Studi Keislaman

Pendekatan Mistis dan Sufistik dalam Pendekatan Studi Islam