Bacaan dan Melagukan Al-Qur'an

 

A. PAHALA MEMBACA ALQURAN

     1. Menjadi manusia terbaik

     2. Diberi kenikmatan yang tiada bandingnya

     3. Diberi syafaat oleh Alquran pada hari kiamat

     4. Diberi pahala berlimpah

     5. Dikumpulkan bersama malaikat

 

B. ADAB MEMBACA AL-QUR'AN

     1. Membersihkan mulut dengan siwak atau yang lainnya

     2. Diutamakan dalam keadaan suci

     3. Jika orang yang ber junub atau perempuan yang haid tidak menemukan air maka dia bertayamum

     4. Disunnahkan di tempat yang bersih, suci dan terpilih

     5. Diutamakan menghadap kiblat

     6. Memohon perlindungan dengan membaca taawudz

     7. Membaca bismillah

     8. Bersikap khusyuk dan merenungkan maknanya

 

C. SEJARAH QIRO'AH SAB'AH

     Pada awal permulaan Islam, para sahabat mempelajari Alquran secara langsung dari Rasulullah shallallahu salam dan ada sebagian sahabat yang menerima setoran hafalan Alquran dari sahabat yang lain dan juga para tabiin.

     Seiring berjalannya, waktu semakin banyak yang mempelajari Alquran secara intensif sehingga, banyak imam ahli qira'at yang muncul namun, ada beberapa perbedaan dalam bacaan Alquran mereka. hal itu tidak menjadi masalah selama cara membaca tersebut berdasarkan riwayat shahih apalagi memang ada kelonggaran dari Rasulullah dalam membaca Alquran sesuai logatnya.

      Meski demikian pada abad ke-2 dan ke-3 mayoritas umat Islam di masing-masing wilayah mengikuti bacaan dari ilmu tertentu yang kemudian dikumpulkan oleh Ibnu Mujahid dalam kitabnya yang berjudul " As-sab'atu fi al-qiraa'aat ". tujuh imam tersebut adalah imam Nafi di Madinah, imam Ibnu Katsir di Mekah, imam Ibnu Amir di Syam, imam Ibnu Amr di Basrah, dan imam ashim, Hamzah, dan al-kisa'i di kufah yang lambat laun dikenal dengan qiroah sab'ah. Bacaan mereka dipilih karena bacaan mereka banyak dipakai dan disebarluaskan, sesuai dengan tulisan dalam mushaf dan kaidah bahasa Arab, serta diriwayatkan dengan sanad yang shahih.

 

D. HIKMAH QIRO'AH SAB'AH

     1. Memperkokoh kesatuan umat

     2. Bukti keagungan al-quran

     3. Memberi kelegaan pada umat

     4. Ibadah dalam Islam sangat mudah

     5. Merupakan indikasi mutlak bahwa al-quran merupakan firman Allah

     6. Merupakan bukti yang kuat atas kebenaran Rasulullah SAW

      7. Mengindikasikan keagungan umat Islam

      8. Menunjukkan bahwa kitab Allah terpelihara dari penyimpangan

      9. Hikmah yang paling agung adalah mempermudah umat dalam urusan qiroat dan meringankan umat dalam hal ini.

 

E. SEJARAH ILMU TAJWID

     Ilmu tajwid telah bermula sejak Alquran diturunkan kepada Rasulullah.seperti yang disebut dalam ayat 4 surah Al Muzammil "baca Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan-lahan)." kemudian nabi Muhammad SAW mengajarkan ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan Tartil.

      Sayyidina Ali apabila ditanya tentang apakah maksud Alquran dibaca secara tartil maka beliau menjawab "membaguskan sebutan atau pelafalan bacaan pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul."

      Ini menunjukkan bahwa pembacaan AlQuran bukanlah suatu ilmu hasil dari ijtihad para ulama yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari Alquran dan sunah melainkan sesuatu yang taufiqi melalui riwayat dari sumber asalnya yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah.

      Meskipun demikian penulisan ilmu tajwid yang paling awal dianggap ketika Utsman melengkapi mushaf dengan tanda titik Dan garis atau harakat. gerakan ini dilakukan karena umat Islam mulai melakukan kesalahan-kesalahan dalam membaca Alquran adapun yang mengetahui gerakan ini adalah Abu Aswad Ad-duali dan AL Khalil bin Ahmad Alfarhidi.

       Setelah berkembang luas di agama Islam ke seluruh tanah Arab serta contohnya Ramadan Paris ke tangan umat Islam pada tahun pertama dan kedua Hijriyah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk penduduk yang ditaklukan umat Islam. hal ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab dan pembacaan AlQuran.

         Ilmu qiraat yang paling awal ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu ubaid al-Qasim ibnu salam dalam kitabnya Al Qiro'at tetapi ada yang mengatakan apa yang telah disusun oleh Abu Umar hafiz ad-Duri dalam ilmu Qira'at adalah lebih awal.

         Pada kurun ke-4 hijriah pula lahir Ibnu mujahid Al Baghdadi dengan karangannya "kitabus sab'ah", belajar qiro'at kepada mushaf Usmaniyah yang berjumlah tujuh naskah. 

 

F. SEJARAH MAKHORIJUL HURUF

     Tajwid berasal dari kata jawwada- yujawwidu- tajwiidan mengikuti wazan taf’iilyang berarti membuat sesuatu menjadi bagus. Di dalam beberapa buku tajwid disebutkan bahwa Istilah ini muncul ketika seseorang bertanya kepada khalifah ke-empat, ‘Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah yang berbunyi:

ترتيال القرأن ورتل Beliau menjawab bahwa yang dimaksud dengan kata tartil adalah "tajwiidul huruuf wa ma’rifatil wuquuf" yang berarti membaca huruf-hurufnya dengan bagus (sesuai dengan makhraj dan shifat) dan tahu tempat-tempat waqaf.

      Ketika Al-Qur’an diturunkan, pada masa itu tidak ada kewajiban bagi umat islam untuk mempelajari ilmu tajwid karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab dan bahasa arab merupakan bahasa keseharian mereka.  Jadi mereka tidak mempunyai kesulitan sama sekali dalam pelafalan huruf huruf dalam al-Qur’an. Akan tetapi pada saat orang-orang a’jam (orang-orang asing) mulai masuk islam, muncullah masalah baru, yakni masalah tentang pelafalan huruf.  Karena ketika mereka mambaca Al-Qur’an ada beberapa huruf dan bentuk  I’rab[1] yang tidak terdapat dalam bahasa mereka padahal bahasa arab dibangun dari I’rab. Apabila susunan sebuah kalimat berubah maka maknanya juga akan berubah. Dari hal ini, para sahabat pada masa khalifah ‘Ali Bin Abi Thalib – ketika banyak orang asing masuk islam – sangat memperhatikan hal  ini. Kemudian khalifah ‘Ali memerintahkan Abul Aswad addu’ali[2] untuk meletakkan alamat atau tanda yang bisa menjadi patokan bagi orang-orang  (ينحو الناس نحوها)dari kata ini pula kemudian muncul sebuah cabang ilmu yang disebut ilmu nahwu- yaitu agar orang-orang bersandar pada ilmu ini dalam  pelafalan bahasa arab. Pada awalnya, Abul Aswad merasa ragu untuk melakukan hal ini. 

Pada suatu hari, Abul Aswad addu’ali berjalan di sebuah gang sempit dan mendengar seseorang yang sedang membaca awal surat At-Taubah yang  berbunyi:

رسوله و المشركين من بريء هللا أن األكبر الحج يوم الناس إلى رسوله و هللا من أذن

Pada ayat tersebut, kata yang bercetak tebal dibaca wa rasuuluh akan tetapi orang itu membaca ayat tersebut dengan wa rasuulih. Mungkin kelihatannya hanya persoalan sepele (karena hanya masalah harakat) akan tetapi, dalam bahasa arab perubahan harakat bisa mengakibatkan adanya  perubahan makna dari yang awalnya bermakna “bahwsanya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kaum musyrik” berubah menjadi “Allah berlepas diri dari kaum musyrik dan Rasul-Nya” (na’udzubillah min dzalik). Setelah mendengar bacaan itu, abul aswad terkejut dan berkata “maha suci Allah,  semoga Allah tidak berlepas diri dari Rasul-Nya.” lalu beliau datang kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan berkata “aku akan melaksanakan apa yang telah engkau perintahkan kepadaku”[3] kemudian Abul Aswad mulai memberikan tanda kasrah, fathah, dan dhommah pada al-Qur’an. 

           Setelah orang-orang a’jam masuk islam, para ulama mulai menyadari pentingnya kaidah-kaidah dalam A-Qur’an agar orang-orang tidak melakukan kesalahan. Misal, dalam al-Qur’an terdapat huruf ha (ح) seperti dalam surat Al-Fatihah yang berbunyi: 

الرحيم الرحمن هللا بسم

Sedangkan huruf tersebut tidak terdapat dalam bahasanya, maka sebagian orang membaca dengan mengganti ha ( ح) menjadi ha ( ه) 

الرهيم الرهمن هللا بسم Atau menjadi kha (خ) 

الرخيم الرخمن هللا بسم

          Demikian pula lafadz, ketika kita sedang melafadzkan sebuah kata misalkan (عسى)kata ini bermakna harapan.  Akan tetapi jika huruf sin dalam kalimat ini kita tebalkan, yakni (عصى) maka arti dalam kata ini sudah berubah sebagaimana pindahnya air ke tempat yang  lain. Kata ini bisa berarti tongkat atau menyelisihi. Makna dua kata tersebut  bisa berbeda hanya karena perbedaan antara tebal dan tipisnya pelafalan salah satu huruf saja.

          

F. HIKMAH ILMU TAJWID DAN MAKHROJ HURUF

    1. Mengetahui Cara Membaca Al-Qur’an yang Baik dan Benar Salah satu tujuan utama dari mempelajari ilmu tajwid dalam membaca AlQur’an adalah untuk mengetahui cara melafalkan huruf dari tempat keluarnya (makhrajnya), cara membaca berbagai hukum bacaan, waqaf dan lain sebagainya.

    2. Mampu membaca Al-Qur’an sesuai Kaidah yang Benar jika kita telah mempelajari ilmu tajwid dan mengetahui cara melafalkan yang baik dan benar maka kita juga akan bisa mempraktekkannya, sehingga hal tersebut akan menjadikan kualitas bacaan Al-Qur’an kita semakin baik.

   3. Menjaga Lidah dari Terjadinya Kesalahan saat Membaca Al-Qur’an (Lahn) Membaca Al-Qur’an pastinya berbeda jauh dengan membaca hadist maupun kalimat arab yang lainnya.

        

 

Kesimpulan menurut saya :

Membaca Al-Qur’an memberikan berbagai macam dampak positif bagi kita, namun alangkah baiknya kita mengetahui apa saja adab dalam membaca Al-Qur’an serta mengetahui cara membaca Al-Qur’an dengan benar seperti penggunaan tajwid,panjang pendek, dan pelafalan yang baik dan benar

 

Komentar